Senin, 23 Juli 2018 09:58

“Catatan Perjalanan mengawal demokrasi dari pulau Kojadoi NTT”

 

 

 

Sabtu 24 Pebruari 2018 sekitar pukul 07.30 Wita, cuaca Kota Maumere pagi itu tampak cerah, meski di ufuk timur masih terlihat gerombolan awan putih membelah mentari pagi. Namun dibagian lain yang dominan cakrawala langit biru tampak cerah nan lembut, selembut gemercik ombak yang bergulung kecil di pantai Waigete Maumere pagi itu. Sesekali terdengar suara kicauan burung pantai yang parkir  berjejer di ranting dahan  pohon waru seolah menyapa kami yang antri menunggu giliran naik perahu. Ketenangan dan kedamaian terasa di tepi pantai Waigete selembut gemercik ombak yang bergulung kecil di pantai Waigete Maumere pagi itu.  Perjalanan  kami menuju pulau Kojadoi, sebuah pulau mungill nan terpencil diapit  sebuah pulau besar bersandar persis dibelakang, bercorak bukit-bukit nan hijau. Agenda perjalanan ini telah terjadwal sehari sebelumnya, dalam rangka memastikan seluruh tahapan pengawasan pemilihan dan pemilu di wilayah kepulauan terluar dan terpencil berjalan, sekaligus bersilaturrahmi, mendengar secara langsung ‘aspirasi’ sekaligus memahami suasana kebatinan para pahlawan pengawal  demokrasi di wilayah kepulauan adalah target kami.

Tanpa menunggu lama, sebuah perahu tempel  yang dicarter sudah parkir  melabuhkan sauhnya dipinggir pantai Waigette yang teduh nan biru pertanda alam bersahabat merestui perjalanan kami menuju Pulau Kojadoi yang biasa dikenal masyarakat setempat pulau Koja. Satu persatu kami bergilir naik perahu di bagian depan dan mengambil posisi duduk seimbang kiri dan kanan, sebagai isyarat menjaga keseimbangan perahu agar tidak mudah terombang ambing. Perjalanan menuju ke pulau Kojadoi ditempuh sekitar setengah jam. Meskipun hari masih pagi, namun gulungan ombak sepanjang perjalanan memicu adrenalin, dan tibalah kami di  pelabuhan  Lamalino berhasil menaklukan pulau Kojadoi.

Kami disambut ‘pahlawan demokrasi pulau’ dua orang Pengawas Pemilu Lapangan. Pulau Kojadoi sebuah pulau mungil terpencil yang padat penduduk dengan luas sekitar satu kilometer persegi yang dihuni sekitar 3000 jiwa. Kenapa  terpencil, karena aktivitas kehidupan masyarakat di pulau desa Kojadoi itu tradisional, tak ada moda transportasi laut yang difasilitasi pemerintah daerah, untuk bisa mengakses masuk keluar termasuk ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, tak  ada kendaraan roda dua dan roda empat. Akses yang menghubungkan pulau-pulau dan desa sekitarnya praktis menggunakan perahu berbahan bakar minyak dengan harga mahal.

Tak ada jarak antara dermaga dan pemkiman penduduk. Deretan rumah-rumah panggung berdinding bambu  tersusun rapat disepanjang pantai. ditengah-tengah pemukiman penduduk yang konon  nenek moyang mereka berasal dari Wakatobi Sulawesi itu berdiri kokoh sebuah masjid berarsitektur kuno berlantai dua, dibelakang masjid berdiri kokoh sebuah bukit berbatu yang tersusun rapi tampak natural, oleh masyarajat setempat diberi nama bukit purba tangga seribu. Dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit kami akhirnya tiba di rumah kepala desa Kojadoi Hanawi, sayangnya pak kades sedang bertugas ke Kota Maumere. Namun tradisi di pulau ini setiap tamu yang datang ke pulau wajib diterima di rumah kepala desa. Dengan begitu tak perlu membuang waktu,kami  memanfaatkan ruang tamunya sebagai arena rapat dan berkonsolidasi bersama PPL dan panwasam, beristirahat sejenak dan makan siang bersama.

Setelah beristirahat secukupnya sambil berdiskusi lepas, Ketua Panwaslu Kabupaten Sikka  Harun Al Rasyid yang menjadi pemandu rombongan membuka pertemuan kami  dalam suasana penuh keakraban untuk saling berkenalan. Saya tampak terharu melihat  tiga orang Pengawas Pemilu Lapangan yang duduk berderet El Anshary PPL desa Kojadoi, Hardinsah, PPL desa Kojagete dan Sunarti PPL  yang begitu bersemangat menyampaikan persoalan yang dihadapi selama mengawasi tahapan Pemilihan diwilayah kerja mereka masing-masing. “ kami merasa bangga karena mendapat kunjungan dari Bawaslu Provinsi, ini peristiwa langka, yang belum pernah terjadi, kami merasa ada kekuatan baru yang datang menyemangati kami dalam mengawal tugas-tugas kepemiluan ditengah-tengah keterbatasan yang kami miliki .” Ungkap Hardiansah penuh semangat.

 Selain itu  Muhammad Salihun B, anggota Panwas Kecamatan Alok Timur menjelaskan Panwascam Alok Timur wilayah pengawasannya sangat luas dan mencakup tiga desa di kepulauan ini, secara administratif  Panwascam Alok Timur membawahi  Sembilan  desa dan Kelurahan yakni Kelurahan Waioti,  kelurahan Wairotang,  kelurahan Nangameting, Kelurahan Beru, Kelurahan Kota Baru, desa Watugong, desa Lepoliwa dan tiga desa di pulau yakni desa Kojadoi, desa Kojagete, serta desa Perumaan. Desa Kojadoi sendiri unik menurut Solihin karena menjadi satu desa tersendiri di pulau Kojadoi, sedangkan desa Kojagete dan desa Parumaan berada  di pulau besar, sehingga untuk kegiatan pengawasan sering mengganjal karena akses transportasi antar pulau yang selain tak bisa diakses pada musim  angin kencang dan gelombang laut yang tak bersahabat, juga ongkos transportasi laut  yang mahal, tak berbanding lurus dengan hak-hak yang mereka terima, namun bagi mereka menjadi pengawas pemilu adalah panggilan jiwa yang tak boleh berbalik karena kondisi apapun, seperti penggalan syair HD Mengembah, “berpantang membalik haluan pulang

Kesulitan akses untuk mengawal pesta demokrasi diwilayah kepulauan terpecil  tak membuat Salihun, Sunarti, El anshary dan Hardiasah menyerah berbalik badan. Bagi mereka, tugas mengawal demokrasi adalah sebuah kepercayaan yang tidak dapat dijalankan oleh semua orang. Meski terkadang honor terlambat dan tak jarang mereka harus  menebus transportasi dan operasional pakai modal sendiri.  Ketua Panwaslu Kabupaten Sikka Harun Al Rasyid berkisah, saat proses rekruitmen pengawas, ada kesulitan tersendiri mencari figur yang memenuhi syarat di daerah kepulauan. Dan hanya anak pulau lah yang menurut Harun memahami  karaktekistik wilayah dan yang paling penting adalah penguasaan terhadap daerah kepulauan dalam berinteraksi mengawasi pemilu. Karena itu pilihan terhadap panwascam adalah orang-orang yang menghuni pulau.

Konon kabarnya menurut Salihun, pulau Kojadoi ditaklukan pertama sekitar tahun 1940 oleh  nenek moyang mereka dari Buton yang meninggalkan kampung halamannya dari Wakatobi, karena saat itu penjajah Jepang  memaksa warga untuk kerja paksa membangun Jembatan. Sebagai sikap protes atas kekejaman  Jepang itu, nenek moyang mereka kemudian memilih berlayar sampai ke pulau Flores dan melabuhkan sauhnya di pulau Kojadi dan menetap hingga menjadi perkampungan saat ini. Dan saat pertama kali bermukim di pulau itu, nenek moyang mereka membangun masjid  berbahan batang dan pelepah kelapa yang hingga kini dikenal dengan masjid Nurul Iman. Seiring dengan perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk, masyarakat di pulau Kojadoi dilegitimasi oleh pemerintah Kabupaten Sikka secara administratif dalam satu desa yakni desa Kojadoi dengan jumlah penduduk sekitar 3000 jiwa. Mata pencaharian masyarakat masyarakat di pulau Kojadoi umumnya nelayan tradisional,  dan menjadi petani rumput laut, namun mereka juga memanfaatkan lahan pertanian di pulau besar dengan jarak tempuh sekitar satu kilometer diatas permukaan air laut dengan jembatan batu. 

Selain itu warga setempat juga memanfaatkan momentum konsolidasi demokrasi dengan berpartisipasi secara aktif menjadi pemilih. Salihun berkisah, pada pemilihan kepala desa  tahun 2017 lalu, terdaftar 1.035 pemilih yang masuk dalam salinan daftar pemilih tetap untuk memilih kepala desa. Karena itu ia memprediksi untuk pemilihan kepala daerah serentak 27 Juni mendatang, jumlah pemilih  diperkirakan bertambah, seiring pertambahan usia penduduk desa setempat yang menjadi pemilih pemula. Sementara itu  Sunarty, El Anshary dan Hardiasah  mengaku tidak sulit mengawasi pemilihan di wilayah kepulauan tempat mereka berdomisili, karena umumnya warga setempat mereka kenal dengan baik sehingga sulit untuk dipengaruhi dengan ‘godaan’ politik uang dan Politisasi Sara. Bahkan saat mengawasi Coklit data pemilih, tak ada kesulitan berarti yang mereka hadapi, karena warga setempat  semuanya keluarga, sehingga mudah dideteksi yang mutasi keluar daerah, meninggal dunia atau tidak memenuhi syarat.” Kami bertekad, pengawasan pemilu diwilayah kepulauan berjalan sukses, tanpa politik uang dan Politisasi Sara”. Selamat berkarya para pengawal demokrasi di Kepulauan. (din)      

 

 

Baharudin Hamzah,M.Si

Author :

Anggota Bawaslu NTT Kordiv Organisasi dan SDM 

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Artikel Lainnya

Hubungi Kami

Badan Pengawas Pemilu
Provinsi Nusa Tenggara Timur

Jalan Sam Ratulangi No.25a
Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur

Phone : (0380) 8430092

Website : bawaslu-ntt.go.id

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Statistik Kunjungan

1.png3.png6.png2.png1.png9.png
Hari ini42
Minggu ini 691
Bulan ini2734
Total Kunjungan136219